Menumbuhkan Generasi Rabbani

Akhir-akhir ini kita semakin sering mendengar mengenai generasi rabbani. Karena memang semakin kesini, masyarakat semakin merindukan generasi rabbani sebagai generasi penerus di masa depan. Karena generasi rabbani adalah label yang disematkan kepada para generasi emas umat islam, yang diharapkan mampu untuk menegakkan kembali syariat islam dalam kehidupan.

MAKNA GENERASI RABBANI

generasi rabbani

Generasi Rabbani

 

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ(*) وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ(*)

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”Qs. Ali-Imran: 78-80

Berikut adalah keterangan para ulama tentang istilah ‘rabbani’, yang disarikan dari kitab Zaadul Masir fi Ilmi at-Tafsir, karya Ibnul Jauzi (1/298):

Ditinjau dari tinjauan bahasa, Ibnul Anbari menjelaskan bahwa, kata ‘rabbani’ diambil dari kata dasar Rabb, yang artinya Sang Pencipta dan Pengatur makhluk, yaitu Allah. Kemudian diberi imbuhan huruf alif dan nun (rabb+alif+nun= Rabbanii), untuk memberikan makna hiperbol. Dengan imbuhan ini, makna bahasa ‘rabbani’ adalah orang yang memiliki sifat yang sangat sesuai dengan apa yang Allah harapkan. Kata ‘rabbani’ merupakan kata tunggal, untuk menyebut sifat satu orang. Sedangkan bentuk jamaknya adalah rabbaniyun.

Terdapat beberapa riwayat, baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in, tentang definisi istilah: “rabbani”. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu, beliau mendefinisikan “rabbani” sebagai berikut:Generasi yang memberikan santapan rohani bagi manusia dengan ilmu (hikmah) dan mendidik mereka atas dasar ilmu. Sementara Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma dan Ibnu Zubair mengatakan: Rabbaniyun adalah orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya.

Qatadah dan Atha’ mengatakan: Rabbaniyun adalah para fuqaha’, ulama, pemilik hikmah (ilmu).

Imam Abu Ubaid menyatakan, bahwa beliau mendengar seorang ulama yang banyak mentelaah kitab-kitab, menjelaskan istilah rabbani: Rabbani adalah para ulama yang memahami hukum halal dan haram dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Dari keterangan diatas maka dapat diambil beberapa point mengenai makna dari generasi rabbani, yaitu:

  1. Orang-orang yang bijak, ahli ilmu dan agama.
  2. Orang-orang yang dinisbahkan kepada Rabb Allah SWT, karena memiliki sifat yang sangat sesuai dengan apa yang Allah harapkan, dengan banyaknya ibadah, amalan dan kedalaman ilmu mereka.
  3. Orang-orang yang berilmu dan memiliki pengetahuan tentang al-Qur’an dan sunnah, serta mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya.
  4. Orang-orang yang menjadikan ilmunya bukan hanya untuk kepentingan pribadinya semata, akan tetapi mengurusi, mengajarkan, memperbaiki generasi masyarakat dengan ilmu mereka. Sehingga mereka menjadi tulang punggung manusia dalam masalah urusan agama baik akhirat maupun dunia
  5. Orang-orang yang tidak sembarangan mengambil sumber ilmu dan pemahaman mereka dalam beragama. Akan tetapi mengikuti pemahaman para sahabat dan metode mereka dalam beragama. Karena sahabat merupakan standar kebenaran bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ibnul Arabi, ketika ditanya tentang makna ‘rabbani’, beliau mengatakan: Apabila seseorang itu berilmu, mengamalkan ilmunya, dan mengajarkannya maka layak untuk dinamakan seorang rabbani. Namun jika kurang salah satu dari tiga hal di atas, kami tidak menyebutnya sebagai seorang rabbani. (Miftah Dar as-Sa’adah, 1/124).

CIRI-CIRI GENERASI RABBANI

Dari penjelasan diatas sebenarnya sudah dapat pula diambil kesimpulan tentang ciri-ciri dari suatu generasi yang layak menyandang gelar generasi rabbani ini. Seseorang itu layak dinamakan rabbani adalah karena dia telah melakukan amalan/ibadah yang sangat mendekatkan dirinya kepada Ar-Rabb (Allah), sebagaimana pengertian ‘rabbani’ dari tinjauan bahasa. Biasanya akan muncul satu pertanyaan, apa kaitan antara pengertian ulama tentang istilah ‘rabbani’ dengan makna kata ini secara bahasa. Atau dengan kata lain, apa kaitan antara ilmu, yang menjadi syarat mutlak seorang rabbani dengan ibadah kepada Allah?

Dijelaskan oleh Ibnul Anbari, keterkaitannya karena ilmu merupakan bentuk ibadah kepada Allah ta’ala. Disamping itu, seseorang hanya akan bisa melakukan ibadah kepada Allah, jika dia memahami tata cara ibadah yang sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Sehingga kata kunci dalam masalah ini adalah ‘ilmu’ (Zaadul Masir, 1/298).

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam az-Zuhri – salah seorang ulama tabi’in –:  Tidak ada satu bentuk peribadatan kepada Allah yang lebih mulia dibandingkan ilmu. (Hilyah al-Auliya, 2/61). Demikian juga dikatakan oleh Imam Ahmad: Mencari ilmu merupakan amalan yang paling mulia, bagi siapa saja yang niatnya benar. (Syarh Muntaha al-Iradat, 2/26). Hal yang semisal juga dikatakan Abdullah bin Mubarak, Saya tidak mengetahui ada sesuatu yang lebih mulia setelah nubuwah (kenabian) melebihi kegiatan menyebarkan ilmu. (Mausu’ah ad-Din an-Nashihah, 1/301)

Dengan kata lain generasi masyarakat yang layak menyandang label generasi rabbani memiliki ciri sebagi berikut:

  1. Banyak beramal dan beribadah kepada Allah SWT dengan berlandas pada ilmu yang haq.
  2. Tegar di atas iman dan taqwa. Berdiri di atas asas tauhid yang kokoh dan tidak terjerumus kepada kesyirikan.
  3. Istiqomah di atas sunnah yang shahihah dengan menjadikan Rasulullah SAW, kemudian para sahabat, salafush shalih sebagai imam dan tauladan yang mereka ikuti.
  4. Menjunjung tinggi ilmu dan amal serta semangat di atas ketaatan dan menjauhkan diri dari kemaksiatan
  5. Semangat menebarkan ajaran islam dan menasihati serta mendakwahi kaum muslimin
  6. Menjunjung tinggi kemuliaan akhlak dan keluhuran adab dengan membersihkan jiwa dari akhlak dan adab yang buruk, sehingga menjadi penyejuk mata.

MEMBANGUN GENERASI RABBANI

Membangun generasi rabbani bukanlah perkara yang mudah, terlebih di lingkungan masyarakat yang sudah mengesampingkan agama, sudah tertipu oleh tipu daya syaithon dan dunia. Mendidik masyarakat menjadi generasi rabbani, ataupun menumbuhkan generasi rabbani sedari masih kecil merupakan tanggung jawab semua orang. Karena semua manusia memiliki tanggung jawab untuk berdakwah dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Hanya saja tanggung jawab ini bertingkat-tingkat, sesuai dengan tingkatan ilmu dan ketaqwaan seseorang.

Faktor-faktor penunjang utama untuk membangun atau menumbuhkan generasi rabbani antara lain:

  1. Menjadi orang tua yang sholih (INI YANG PALING UTAMA !!!).
    Untuk bisa mewujudkan genarasi rabbani seutuhnya, agenda besar ini harus dimulai dari lingkungan belajar yang lingkupnya paling kecil, yaitu keluarga. Orang tua adalah madrasah pertama bagi anaknya sehingga harus menjadi orang tua yang sholih, supaya bisa memberikan contoh atau teladan bagi anaknya. Orang tua yang sholih akan membangun rumah tangga yang sholih dan insyaa Allah menghasilkan generasi yang sholih.
    Karena itu, Allah perintahkan agar kepala keluarga dengan serius memperhatikan kondisi keluarganya. Allah berfirman (yang artinya): “Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka…” (QS. At-Tahrim: 6). Allah gandengkan perintah ini dengan gelar iman, menunjukkan bahwa perintah tersebut merupakan tuntutan dan konsekwensi iman seseorang.
  2. Tinggal di lingkungan yang baik.
    Tidak dipungkiri lagi lingkungan termasuk faktor penentu yang penting yang mempengaruhi akhlak seseorang. Lingkungan yang baik dapat mempengaruhi seseorang yang semula buruk untuk menjadi baik. Begitupula sebaliknya, yang baik dapat menjadi buruk akibat pengaruh dari lingkungan yang buruk (Baca juga: Menyimpang Setelah Mendapat Hidayah). Karena itu harus diperhatikan lingkungan dimana kita berada, baik bagi diri kita pribadi, istri, anak-anak, keluarga supaya jangan sampai terpengaruh menjadi buruk.
    Lingkungan dengan lingkup terkecil dimulai dari keluarga (masih terkait dengan point 1), karena itu di dalam keluarga harus diciptakan lingkungan yang baik, yang mendukung untuk membangun generasi rabbani. Kemudian lingkungan pergaulan sekitar (tetangga, masyarakat, pertemanan, pendidikan). Kita harus perhatikan tetangga, masyarakat sekitar dimana kita berada, pertemanan kita biasa bergaul, pendidikan dimana kita atau anak-anak kita menimba atau mengambil sumber ilmu. Lebih baik jauhkan diri kita, anak-anak kita, keluarga kita dari lingkungan yang masih terdapat banyak syubhat-syubhat atau fitnah yang menghalangi menjadi generasi rabbani.
  3. Ilmu yang shahih (ilmu agama yang benar)
    Kita harus perhatikan darimana sumber kita mengambil ilmu agama kita. Karena semakin hari semakin banyak buku-buku, media, sumber ilmu yang lebih banyak sampahnya, atau lemah. Darimana kita mengambil agama kita akan mentukan cara atau jalan beragama kita. Dengan berlandaskan ilmu agama yang benar, kita dapat beribadah dengan benar, beramal dengan baik, dapat dengan jelas membedakan mana yang haq, mana yang bathil, mana yang sunnah, mana yang bid’ah sehingga lebih memudahkan untuk menjadi generasi rabbani. Dan tentunya yang terbaik adalah yang sesuai dengan Al-Quran dan Assunnah, pemahaman sesuai dengan generasi para sahabat, ilmu atau petunjuk yang bersambung hingga ke Rasulullah.
  4. Berguru pada guru-guru yang rabbani.
    Masih terkait dengan point sebelumnya, cara yang mudah untuk mendapatkan ilmu agama yang benar tentunya dengan mengambilnya dari sumber mata air ilmu yang benar, yaitu para guru-guru yang rabbani. Dengan belajar dari para guru-guru yang benar, insyaaAllah ilmu yang didapatkan juga akan lebih terjamin, sesuai dengan Al-Quran dan Assunnah dengan pemahaman para sahabat dan salafush shalih. Berguru dengan mendatangi, duduk di majlis-majlisnya, mendengarkan ceramah/tausyiah para guru-guru rabbani, atau bisa pula dengan membaca buku-bukunya. Meskipun tentu akan lebih baik jika datang langsung duduk di majlis ilmunya.
  5. Makan atau minum dari yang halal.
    Ini adalah hal yang terkadang orang menyepelekannya atau tidak begitu memperhatikannya. Ketika membeli makanan sering kita tidak perhatikan ada label halalnya atau tidak. Masih banyak juga yang tidak peduli uang yang digunakannya untuk menafkahi keluarganya dari sumber yang halal atau tidak. Padahal sumber makan atau minum yang halal sangat mempengaruhi pembentukan akhlak seseorang menuju manusia generasi rabbani. Karena makanan yang dikonsumsi akan menjadi nutrisi yang mengalir melalui darah, ke seluruh tubuh, menjadi daging, organ-organ sell pembentuk tubuh kita. Jika makanan yang dikonsumsi berasal dari sumber yang haram, bisa kita bayangkan yang mengalir didalam tubuh kita barang yang haram, daging kita dari yang haram, bahkan jantung dan otak kita dari yang haram. Selain itu manusia yang mengkonsumsi barang-barang yang haram akan lebih mudah berbuat maksiat, dan sulit untuk melakukan hal-hal yang dicintai Allah, karena ada syaithon bersarang di dalam tubuh kita yang berasal dari makanan haram yang dikonsumsi tadi sehingga menghalangi untuk menjadi generasi rabbani. Misal malas sholat, malas ke majlis ilmu, anak-anak sulit diatur dan suka melawan, mudah sakit, dll. Jika hal itu terjadi, coba intropeksi siapa tau masih ada makanan atau minuman yang kita konsumsi bersumber dari yang haram. Mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal akan membantu membentengi diri kita dari syaithon, serta lebih meringankan kita untuk melakukan amalan-amalan ibadah yang dicintai Allah.

Mari kita tumbuhkan atau bangun generasi rabbani, karena mereka adalah benteng agama, taruna bangsa, lentera di tengah kegelapan yang semakin menyamarkan antara yang haq dan yang bathil.

Wallahu A’lam Bishawab

REFERENSI:
Disarikan dari kajian Ust. Fachrudin Nu’man, LC dan Ust. Ammi Nur Ba’its tentang Generasi Rabbani

Jangan lupa Like & Share ya:

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>