KAMU NGE-FANS BANGET SAMA SIAPA? 2018

4.7 (94.74%) 19 votes

Kamu Fanatik kepada siapa?

Sisi positif perkembangan tekonologi salah satunya adalah memudahkan untuk belajar, mencari ilmu. Dengan koneksi Internet yang saat ini semakin murah, kita bisa dengan mudah mencari ilmu. Di sosial media, website, youtube begitu banyak artikel, status, postingan dan juga video-video dari para ulama, ustadz, kyai, habaib yang berbagi tentang ilmu agama.

fanatik
fanatik

Tetapi tentunya yang perlu diperhatikan adalah kadar keilmuan dari nara sumber. Karena dunia internet adalah dunia maya yang mana orang bisa terlihat begitu memukau. Dengan retorika yang menawan, seorang yang tidak begitu paham masalah agama sekalipun bisa terlihat layaknya seorang ulama, bahkan ada pengikutnya yang sampai pada level fanatik berat.
Ketika seseorang sudah pada level fanatik berat atau taklid buta kepada seseorang, akan sulit untuk menasihati atau meluruskan jika ada pemahaman yang sebenarnya melenceng.

Padahal para ulama-ulama jaman dahulu, sekelas ulama besar tidak suka jika ada yang fanatik atau taklid buta dengan apa yang mereka sampaikan. Dan mereka sering mewasiatkan agar jangan mengikuti mereka jika mereka menyimpang.

Al-Imam Sufyan ats-Tsaury rahimahullah berkata:

نحن اليوم علىٰ الطريق، فإذا رأيتمونا قد أخذنا يمينًا أو شمالًا فلا تقتدوا بنا.

“Kami hari ini di atas jalan yang benar, maka jika kalian melihat kami telah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jangan mengikuti kami!!”

Imam Asy Syafi’i berkata:

إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي

“Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.”

Ar Rabie’ (murid Imam Syafi’i) bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Syafi’i tentang sebuah hadits, kemudian (setelah dijawab) orang itu bertanya, “Lalu bagaimana pendapatmu?”, maka gemetar dan beranglah Imam Syafi’i. Beliau berkata kepadanya,

أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي إِذَا رَوَيْتُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ وَقُلْتُ بِغَيْرِهِ

“Langit mana yang akan menaungiku, dan bumi mana yang akan kupijak kalau sampai kuriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku berpendapat lain…!?”

Imam Syafi’i juga berkata:

إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ

“Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.”

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلىَ أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللهِ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena mengikuti pendapat siapa pun.”

Perkataan Imam Syafi’i di atas memiliki dasar dari dalil-dalil berikut ini di mana kita diperintahkan mengikuti Al Qur’an dan hadits dibanding perkataan lainnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al Hasyr: 7).

Dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati para sahabat radhiyallahu ‘anhum,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676)

Semoga kata-kata Imam Syafi’i di atas menjadi teladan bagi kita dalam berilmu dan beramal, jangan fanatik dan taklid buta pada seorang ulama. Betapa kebenaran dijunjung sampai-sampai kelas ulama saja jika menyimpang maka hendaknya ditinggalkan jangan diikuti. Ketika pendapat seorang ulama bertentangan dengan dalil, maka dahulukanlah dalil jangan tetap kukuh fanatik kepadanya.

Ketika suatu pendapat manusia berseberangan dengan Al-Quran dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang harus kita dahulukan tentunya adalah Al-Qur’an dan pendapat Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak seperti sebagian orang ketika sudah disampaikan hadits shahih melarang ini dan itu atau memerintahkan pada sesuatu, karena sudah fanatik dia malah mengatakan, “Tapi Pak Kyai saya bilang begini”, “ga bener itu, ustadz saya begini kok”, “Pokoknya habaib saya ngajarinnya tuh begini”.
Karena mereka para habaib, ustadz, kyai (yang sakti dan bisa terbang atau jalan di atas air sekalipun, meskipun entah bagaimana caranya) tetap adalah manusia biasa, yang tidak ma’sum (maksum) atau terpelihara dari dosa. Dan hati manusia sifatnya mudah berbolak-balik (berubah).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah mereka yang banyak bertaubat“. [HR. Ibnu Mâjah, dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu ; dihasankan oleh Syaikh al-Albâni dalam al Misykah dan Shahîh Sunan Ibni Mâjah]

Berbeda dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ma’sum (Allah pelihara dari dosa). Maka apa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam putuskan adalah haq, wajib diikuti secara lahir dan batin.

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allâh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allâh dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” [Al-Ahzab/33: 36)]

Dengan penyimpangan pemahaman adanya selain Nabi yang memiliki sifat ma’shum, apalagi hingga ghuluw dan kemudian diiringi dengan ketaatan mutlak/fanatik/taklid buta untuknya, maka sesungguhnya hal ini akan memunculkan berbagai penyimpangan dalam beragama, fanatisme guru dan golongan, bahkan perpecahan dan keburukan lainnya. Maka tidak ada jalan selamat kecuali kembali kepada agama yang dibawa oleh Rasul yang mulia, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang telah diamalkan oleh para muridnya yang utama, para sahabat yang setia, dengan meninggalkan seluruh perkara baru di dalam agama, yang telah merusak keindahan Islam yang telah sempurna.

Semoga Allah menunjukkan kebenaran kepada kita sebagai kebenaran, dan memberikan kepada kita kekuatan untuk mengikutinya. Dan semoga Allâh menampakkan kepada kita kebatilan sebagai kebatian dan memberikan kepada kita kekuatan untuk meninggalkannya. Amiin.

*disarikan dari berbagai kajian ilmu serta artikel dari rumaysho.com dan almanhaj.or.id.
*Silahkan dibagikan / share, semoga bisa menghindarkan kita dari sikap fanatik berlebihan.